Sunday 8th of March 2026

Strategi Perbankan Hadapi Ketidakpastian Ekonomi Global, Ketua PERBANAS Hery Gunardi Tekankan Manajemen Risiko

Strategi Perbankan Hadapi Ketidakpastian Ekonomi Global, Ketua PERBANAS Hery Gunardi Tekankan Manajemen Risiko

--

DAISY NEWS - Industri perbankan Indonesia dinilai masih memiliki ketahanan yang kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terus berkembang. Namun, dinamika geopolitik internasional, fluktuasi harga energi, hingga potensi perlambatan ekonomi dunia membuat sektor keuangan perlu memperkuat strategi mitigasi risiko agar stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.

Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Hery Gunardi menegaskan bahwa sektor perbankan nasional saat ini masih berada pada kondisi fundamental yang relatif solid. Meski demikian, perbankan tidak boleh lengah terhadap potensi risiko yang dapat muncul dari tekanan ekonomi global.

Menurutnya, lembaga keuangan harus mempersiapkan langkah-langkah strategis agar tetap mampu menjaga kinerja serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dalam situasi global yang tidak menentu.

Baca juga: Vidi Aldiano Meninggal Dunia Karena Kanker Apa? Begini Riwayat Sakitnya Hingga Semakin Kurus

Baca juga: AS Bakal Larang Penggunaan Chip Memori China, Persaingan Teknologi Global Mulai Babak Baru

Fundamental Perbankan Nasional Masih Kuat

Kondisi industri perbankan Indonesia hingga awal 2026 menunjukkan performa yang cukup baik. Pertumbuhan kredit per Januari 2026 tercatat mencapai sekitar 9,96 persen secara tahunan atau year on year (YoY), meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang berada di kisaran 9,63 persen.

Selain itu, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga menunjukkan tren positif dengan kenaikan sekitar 10,8 persen secara tahunan. Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) masih berada di level yang terkendali, yakni sekitar 2,14 persen. Sementara itu, ketahanan permodalan industri perbankan juga tergolong kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sekitar 25,9 persen.

Meskipun berbagai indikator tersebut menunjukkan kondisi yang stabil, beberapa indikator profitabilitas mulai menghadapi tekanan moderat akibat meningkatnya biaya operasional. Hal ini membuat perbankan perlu meningkatkan kewaspadaan serta memperkuat strategi pengelolaan risiko.

Di sisi lain, perkembangan geopolitik global dinilai berpotensi memicu inflasi pada sektor energi dan pangan. Jika kondisi ini berlanjut, dampaknya bisa menekan daya beli masyarakat serta memperlambat aktivitas ekonomi. Situasi tersebut juga dapat memengaruhi kinerja sektor usaha yang pada akhirnya meningkatkan risiko kredit bermasalah di sektor perbankan.

Karena itu, lembaga keuangan dituntut lebih selektif dalam menyalurkan kredit sekaligus meningkatkan kualitas pengelolaan portofolio agar potensi risiko dapat diminimalkan sejak dini.

Strategi Mitigasi Risiko Perbankan

Dalam menghadapi ketidakpastian global, terdapat sejumlah langkah strategis yang dinilai penting untuk dilakukan oleh industri perbankan. Salah satu langkah utama adalah memperkuat manajemen risiko melalui berbagai instrumen pengawasan dan pengendalian.

Perbankan didorong melakukan stress test sektoral terhadap portofolio kredit pada sektor-sektor yang rentan terhadap fluktuasi harga energi, seperti transportasi, logistik, dan manufaktur. Selain itu, penerapan sistem peringatan dini atau early warning system menjadi penting untuk mendeteksi potensi peningkatan kredit bermasalah secara lebih cepat.

Disiplin dalam penyaluran kredit juga perlu diperketat melalui penerapan risk-based pricing, sehingga risiko yang dihadapi dapat diukur secara lebih akurat sesuai profil debitur.

Langkah berikutnya adalah memastikan ketersediaan likuiditas yang memadai. Perbankan perlu menjaga rasio likuiditas melalui penguatan Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan Net Stable Funding Ratio (NSFR). Kedua indikator ini berfungsi sebagai bantalan untuk menjaga stabilitas arus kas apabila terjadi volatilitas dana di pasar keuangan.

Baca juga: Seri Termurah! Apple Resmi Rilis iPhone 17e Dibekali Chip A19 dan Fitur AI Cerdas, Harga Cuma Rp10 Jutaan

Baca juga: Viral Anggaran Rp486,9 Juta untuk Meja Biliar di Rumah Dinas Pimpinan DPRD Sumsel Tuai Sorotan Publik

Selain itu, pengelolaan risiko nilai tukar juga menjadi aspek penting. Bank perlu menjaga posisi devisa neto tetap konservatif serta memperkuat strategi lindung nilai atau hedging terhadap eksposur valuta asing. Pengaturan jatuh tempo kewajiban dalam mata uang asing juga harus dikelola secara hati-hati agar tidak terjadi ketidakseimbangan likuiditas.

Langkah-langkah tersebut dinilai krusial untuk memastikan ketersediaan likuiditas valuta asing bagi sektor-sektor strategis seperti eksportir dan importir, sehingga aktivitas perdagangan internasional tetap berjalan lancar.

Di tengah berbagai tantangan global, regulator juga menilai kondisi perbankan nasional masih cukup resilien. Dengan tingkat permodalan dan likuiditas yang berada di atas batas minimum yang ditetapkan regulator, sektor perbankan dinilai memiliki bantalan yang cukup kuat untuk menghadapi dinamika ekonomi global.

Ke depan, koordinasi antara industri perbankan, regulator, serta pelaku ekonomi lainnya akan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di Indonesia.

Source:

Update Terbaru

RELATED POST